29 Maret 2006

Setahun Gempa, Nias Masih Lara

Perhatian donor terhadap Nias kurang.

Sebuah truk yang sarat barang muatan terperosok di badan jalan Desa Maliwaa, Kecamatan Idana Gawo, Nias. Jembatan darurat yang berbahan baku pohon kelapa itu licin saat hujan mengguyur. Jembatan yang dulu kukuh itu telah hancur akibat gempa setahun silam, 28 Maret tahun lalu. Keprihatinan kian menggelayut begitu memasuki Desa Maliwaa. Sepanjang sekitar satu kilometer, berjajar rumah berbahan tenda dengan atap rumbia.

Rumah yang rata-rata berukuran 4 x 4 meter ini hanya terdiri atas satu ruangan untuk semua aktivitas. "Inilah kondisi desa kami pascagempa," ujar Yusnina Zebua, warga Desa Maliwaa.

Telah berlalu setahun gempa yang merenggut lebih dari 850 nyawa manusia dan meluluhlantakkan puluhan ribu rumah, sekolah, tempat ibadah, dan bangunan lain itu, tapi upaya perbaikan belum kentara. Nias dilanda kemalangan dua kali. Gempa dan tsunami bersama dengan kawasan Aceh di akhir 2004, disusul gempa pada Maret berikutnya. Dibanding Aceh, Nias tampak jauh dari berbenah.

Yusnina mengeluhkan proses rekonstruksi di Nias yang sangat lambat. "Belum ada bantuan yang berarti di daerah kami," tuturnya.

Ia juga mengungkapkan, di desanya--yang berpenduduk sekitar 2.000 jiwa--50 rumah hancur akibat gempa. Tapi hingga kini baru dibangun tiga rumah oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi.

Kisah pilu juga diungkapkan Maartu Z., 28 tahun. Dia terpaksa tinggal di gubuk darurat yang dibikin sendiri dengan dinding tenda dan atap rumbia. Maartu, yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh kerat karet, tinggal bersama istri dan dua anaknya di rumah tak berkamar dan beralas tanah itu.

"Kami sangat berharap bantuan rumah dari pemerintah," ujar Maartu. "Sudah setahun gempa, hanya janji yang sering kami dapat," ia mengeluh.

Kepala Kantor Perwakilan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Nias, William Syahbandar, mengakui kelambanan pembangunan di Nias. Ini karena Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi terlambat memulai proses pembangunan. "Kami baru mulai pada Desember 2005 karena di Nias juga sempat ada masa tanggap darurat," ia menjelaskan.

Selain itu, masalah logistik dan suplai material menjadi kendala. Di Nias hanya ada dua pelabuhan untuk masuk. Selama ini, kata dia, banyak barang yang menumpuk akibat lambannya distribusi.

Masalah lainnya, perhatian dari lembaga penyumbang juga kurang. "Perhatian donor kurang untuk Nias," William menambahkan. Saat ini, menurut dia, ada sekitar 60 lembaga, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang bekerja di Nias.

Menurut William, saat ini masih terdapat sekitar 13 ribu orang yang mengungsi. Dari jumlah itu, 3.500 di antaranya masih tinggal di tenda darurat.

Toni Rahardjo, staf senior Organisasi Migrasi Internasional (IOM) di Nias, sependapat dengan William. Menurut dia, kendala utama pembangunan di Nias lebih pada kesulitan pemasokan material. Maklum, kondisi jalan di Nias rusak parah. Belum lagi banyak jembatan yang tak bisa dilalui.

Menurut warga setempat, Dedy, Nias telah terabaikan sejak sebelum musibah. Menurut dia, infrastruktur di Nias telah lama tak terurus. Pelabuhan pun tak begitu hidup. Namun, setelah gempa, kata Dedy, akses ke Nias lebih terbuka. "Saya harap ini bisa membawa kebaikan untuk Nias ke depan. Tidak seperti dulu, jarang diperhatikan," ia berharap. ADI WARSIDI
__________________________________________________