Rabu, 02 Februari 2005 18:35

ILO Beri Perhatian Khusus Bagi Anak-Anak Aceh Korban Tsunami

Kapanlagi.com - Organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bergerak di bidang perburuhan, International Labour Organization (ILO), memberi perhatian khusus bagi anak-anak korban bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004.

Direktur ILO Jakarta, Alan. J. Boulton, di Jakarta, Rabu (02/02), mengatakan anak-anak di NAD rawan mengalami putus sekolah karena kesulitan ekonomi yang dialami oleh keluarga mereka akibat kehilangan mata pencaharian pasca bencana alam tersebut.

"Karena tekanan ekonomi yang melanda kehidupan keluarga mereka, bisa jadi anak-anak tersebut dikeluarkan dari sekolah oleh keluarganya dan disuruh bekerja untuk menambah penghasilan keluarga," katanya.

Untuk, itu ILO bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) NAD dan beberapa partner kerja ILO mengadakan program pelatihan keterampilan bagi anak-anak Aceh yang terpaksa harus putus sekolah serta menyediakan kesempatan pendidikan informal bagi anak-anak yang masih ingin melanjutkan pendidikannya.

"Target kami adalah melatih anak-anak berusia tujuh tahun sampai 15 tahun. Selain memberi pelatihan dan pendidikan, kami juga membantu mereka untuk kembali bersekolah apabila memungkinkan," ujarnya.

Perempuan dan anak-anak di NAD pascatsunami, lanjutnya, rawan menjadi korban perdagangan untuk dijadikan buruh pekerja dengan upah yang sangat rendah.

"Perhatian khusus ILO diberikan bagi anak-anak yatim piatu serta yang keluarganya kehilangan mata pencaharian akibat bencana tsunami, demikian juga dengan kaum perempuan. Mereka menghadapi resiko menjadi korban trafficking dan bentuk terburuk dari pekerja anak," kata Boulton.

Inisiatif untuk menjaga anak-anak korban bencana dalam bentuk pemberian pendidikan, keterampilan serta konseling sosial-psilkologi pasca bencana, menurut dia, diperlukan untuk menjauhkan mereka dari kemungkinan dipekerjakan secara eksploitatif.

Selain anak-anak, ILO juga memberi perhatian kepada perempuan NAD yang kehilangan suaminya dalam bencana tsunami dan terpaksa menjadi kepala keluarga yang harus mencari penghasilan.

"Banyak perempuan Aceh yang kehilangan suami dan harus menanggung anak-anaknya sendirian. Mereka harus mencari penghasilan untuk menghidupi keluarganya, sementara mereka tidak tahu harus pergi kemana dan mungkin tidak memiliki keterampilan yang memadai," ujar Boulton.

ILO yang membuka layanan pusat tenaga kerja darurat yang berfungsi menghubungkan pencari kerja di NAD dengan lowongan pekerjaan yang tersedia menjamin tidak akan mendiskriminasikan perempuan dalam pemberian kesempatan kerja.

Selain itu, ILO akan mengadakan program pelatihan peningkatan keterampilan bagi perempuan di NAD serta program pelatihan kewirausahaan.

"Kita harus mendukung masyarakat Aceh agar kehidupan mereka kembali normal seperti sebelum terjadinya bencana. Kelompok yang butuh perhatian khusus seperti perempuan yang terpaksa menjadi kepala keluarga dan anak-anak justru harus lebih diperhatikan," katanya. (*/lpk)
__________________________________________________