Kamis, 13 Januari 2005 21:05

Aceh Masih Butuh Banyak Alat Berat

Kapanlagi.com - Pembersihan kota Banda Aceh dan daerah lain di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dari puing dan lumpur yang dibawa gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 masih mengalami kendala kurangnya alat berat berikut operatornya, karena itu bantuan yang akan dikirim ke wilayah itu jika mungkin juga termasuk personilnya.

Hal itu diungkapkan Kepala Staf Operasi Penanggulangan Bencana Aceh, Budi Atmadi Adipuro kepada pers, di Banda Aceh, Kamis, berkaitan dengan operasi pembersihan kota Banda Aceh dan wilayah lain dari puing dan lumpur.

Dia menyebutkan, saat ini alat berat yang telah dioperasikan di Aceh sebanyak 182. Padahal untuk mempercepat operasi pembersihan dibutuhkan setidaknya 240 alat berat berbagai tipe, seperti eskavator, dumptruck dan bulldozer.

Diharapkan, peralatan berikut operatornya sesegera mungkin didatangkan dari propinsi lain. Sementara itu, Kapuspen TNI Mayjen TNI Sjafrie Sjamsuddin di Banda Aceh juga mengatakan, jumlah alat berat sangat mendesak untuk ditambah hingga mencukupi agar proses pembersihan kota bisa lebih cepat. Dia berharap, bantuan negar asing untuk Indonesia sebaiknya juga meliputi alat berat berikut operatornya, ketimbang personil militer. Masa depan Untuk mempercepat proses pemulihan wilayah Aceh pasca gempa dan tsunami, kini sedang dilakukan koordinasi untuk memabngunkan kembali birokrasi di Aceh. Para bupati dan walikota telah diperintahkan untuk menggerakkan kembali roda birokrasi.

Salah satu tugas yang harus ditangani adalah mendata ulang jumlah personil pemerintahan yang menjadi korban dan mendata perkantor berikut peralatan kantor yang rusak atau hilang. Setelah itu, bupati dan walikota untuk menyiapkan strategi pembangunan kembali Aceh.

Dalam kaitan membangun kembali Aceh, kata Budi, kontraktor lokal harus dilibatkan. begitu juga kalangan perguruan tinggi di Aceh harus diajak untuk berperan. Sementara itu, operasi pembersihan kota Banda Aceh terus dilakukan. Hujan rintik yang melanda Banda Aceh tidak menghalangi kegiatan pengangkutan sampah dan puing dari pinggir-pinggir jalan.

Di kawasaan sekitar Masjid Baiturrahman, misalnya, alat-alat berat dioperasikan untuk mengangkat puing dan lumpur untuk dipindahkan ke truk-truk yang telah disiapkan. Truk-truk pengangkut hilir-mudik membawa sisa tsunami.

Sementara itu, raungan sirine dari truk-truk militer dan polisi juga sering terdengar di Koa Banda Aceh. Truk-truk ini mengangkut mayat-mayat yang telah dievakuasi dari lokasi bencana untuk selanjutnya dikubur secara massal di tempat pemakaman yang telah disediakan.

Data dari satkorlak Bencana Alam di Banda Aceh, menyebutkan, hingga Rabu (12/01) jumlah mayat yang telah berhasil dievakuasi sebanyak 75.500 mayat. Kegiatan evakuasi pada Rabu berhasil mengangkat sekaligus memakamkan 3.809 mayat. Sedangkan jumlah korban meninggal sebanyak akibat gempa dan tsunami hingga Kamis tercatat 78.395 orang.

Selain itu, sebanyak 131.479 orang sampai saat ini masih hilang. Namun angka korban yang hilang belum bisa dipastikan meninggal atau masih hidup karena kemungkinan masih di pengungsian atau berada di luar Aceh.

Guna melanjutkan kegiatan evakuasi dan pencarian mayat korban pada Kamis, Satgas Penanggulangan Bencana Aceh telah menambah jumlah satgas sebanyak 300 orang. (*/lpk)
__________________________________________________